SAP Archiving


Ketika SAP sudah mulai aktif, maka hal yang otomatis bertambah adalah data, baik master data maupun data transaksi. Klo master data berhubungan data data yang merupakan variable tetap, maka data transaksi merepresentasikan semua hal yang dimiliki, dikelola dan dimanfaatkan oleh satu company, so kebayangkan klo ada supermarket yang menjual berbagai macam barang harus mencatat mulai datangnya barang, disimpan dimana, dimasukkan toko kapan, dibeli dengan harga berapa, uang yang bergerak berapa, tenaga kerja digaji berapa dll (hehehe bayangin aja dah pusing).
Untuk itu management data menjadi sangat penting, mana data yang masih dipakai untuk day to day reporting misal, mana data yang masih diperlukan untuk kepentingan audit, dan data mana yang benar benar sudah tidak diperlukan. Setelah verifikasi data, maka step berikutnya adalah didefinisikan cara me-reduce database size strategi data mana yang bisa dibuang dan data mana yang harus dijadikan arsip alias di  archive, pertanyaan berikut pasti, apa sih archive? Archiving SAP secara bebas bisa didefinisikan sebagai memindahkan data dari database system ke server file system ataupun ke external storage (gak papa ya rada teknis nih bahasanya). Jadi secara fisik data hilang dari database, tetapi secara fungsi, data masih dapat di retrieve kapanpun dibutuhkan. Alasanya biasanya adalah kebutuhan system audit 
Berikut flow dari aktivitas SAP Archiving. Transaction Code tidak banyak kok cuma SARA untuk manage archiving process dan SARI untuk data archive explorer plus AOBJ untuk create archiving object dan DB15 untuk kalkulasi database space yang bisa di reduce